Data-data yang dimiliki oleh kementerian kominfo menyebutkan bahwa indonesia memiliki 17 ribu-an pulau, 70% diantaranya, tidak berpenghuni. Dengan jumlah penduduk di kisaran angka 229 juta-an, indonesia menduduki peringkat keempat dunia. Indonesia memiliki 520 etnis dengan 742 bahasa daerah. Bandingkan dengan jumlah penduduk singapura yang hanya 10 juta-an, atau jumlah penduduk malaysia yang hanya berkisar 28 juta-an. Maka, memerintah negara singapura, ibarat memimpin kota jakarta di siang hari. Sedangkan menjadi pemimpin di negara malaysia, bagaikan menjadi gubernur di jawa barat. Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia, dalam hal jumlah pemakai ponsel, sekitar 160 juta-an. Terdapat 50 juta-an orang di indonesia yang merupakan pengguna internet, dan jumlah ini menduduki peringkat kelima terbesar sedunia. Sayangnya, kabel serat optik hanya ada di indonesia bagian barat dan di indonesia bagian tengah. Kementerian kominfo mencita-citakan terbentuknya 44 ribu desa yang saling terhubungkan melalui internet, sehingga desa-desa itu disebut sebagai desa pinter, punya internet. Dengan jumlah penduduk muslim terbesar sedunia, mengalahkan gabungan jumlah penduduk seluruh negara arab, indonesia adalah raksasa yang sedang tidur, atau sekurang-kurangnya, sedang bermalas-malasan. Selain dengan narkoba, negara raksasa ini bisa dilemahkan generasi mudanya dengan serbuan pornografi, dan internet menjadi salah satu media penyebarannya. Menyadari situasi ini, kementerian kominfo mencanangkan pemakaian internet yang sehat dan aman, insan. Memang belum bisa seperti pemerintah di negara cina, yang memfilter internet dengan ketat, mengingat masih kuatnya penolakan beberapa kelompok masyarakat di indonesia. Kementerian ini juga berharap, internet mampu menstandarkan mutu pendidikan antara masyarakat di pulau jawa dan masyarakat di luar pulau jawa, karena materi kuliah bisa diakses via internet. Melalui internet, masyarakat yang tinggal di papua, bisa melihat materi perkuliahan yang diajarkan di UGM, yang sekarang menduduki peringkat 85 se asia, atau melihat materi perkuliahan yang diajarkan di UI, yang sekarang menduduki peringkat 50 se asia.
Selain narkoba dan pornografi, gerakan emansipasi wanita, ikut pula melemahkan negara raksasa ini. Masa depan bangsa, ada di tangan pembantu rumah tangga, Bik Iyem. Mengapa? Karena dialah yang selama ini telah mendidik dan membesarkan anak-anak. Bik Iyem menjadi tempat curhat anak-anak, ketika anak-anak mendapat masalah. Bik Iyem yang mengelus punggung anak-anak, menjelang anak-anak tidur. Bik Iyem yang tahu persis porsi makan anak-anak, karena dialah yang menyuapi mereka. Bik Iyem tahu persis tanda-tanda tubuh anak-anak, letak tahi lalat, karena dialah yang selama ini memandikan mereka. Sudah saatnya untuk mengganti hari ibu, menjadi hari pembantu. Terimakasih Bik Iyem. Peran ibu hanyalah sebagai alat untuk melahirkan dan selebihnya adalah mesin pencari uang yang gandhes bin luwes. Melahirkan? Kalau masih mau. Bagi wanita karier, hamil dan melahirkan adalah pekerjaan yang kurang disukai. Menghambat karir. Buat apa sekolah tinggi-tinggi, kalau hanya berkutat di rumah, mirip pembantu rumah tangga, pikir mereka.
Nampaknya, pengaruh dari gerakan emansipasi wanita, juga mulai dirasakan oleh negeri matahari terbit. Sebagaimana kita ketahui, kebijakan pemerintah jepang adalah menempatkan isteri di rumah, untuk mendorong suami dan anak-anaknya berprestasi setinggi-tingginya. Jangan salah, meskipun menjadi ibu rumah tangga, rata-rata tingkat pendidikan wanita di jepang adalah sarjana. Untuk mendukung kebijakan ini, pemerintah jepang menyiapkan fasilitas-fasilitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain, di dekat tempat tinggal. Sehingga, para ibu rumah tangga bisa memenuhi kebutuhannya, tanpa memerlukan bantuan suami, misalnya, berbelanja, mengantar anak sakit ke fasilitas pengobatan, mengantar balita ke sekolah, atau hendak melahirkan. Bahkan, perpustakaan ada di setiap komplek perumahan. Namun, di awal tahun 2007, menteri kesehatan jepang merisaukan kecenderungan sebagian perempuan jepang yang enggan menikah dan mempunyai anak. Ini mengakibatkan rendahnya tingkat kelahiran di jepang.
Sudah saatnya untuk menilik kembali pelajaran sejarah. Tokoh-tokoh besar dunia yang menorehkan prestasi dengan tinta emas, tidak beribukan atau beristerikan wanita karier. Ibu mereka atau isteri mereka hanyalah ibu rumah tangga biasa, yang seringkali malah buta huruf, miskin akademis, namun, sangat kaya dengan limpahan kasih sayang kepada anak-anaknya dan suaminya. Kasih sayang para ibu dan para isteri yang sederhana ini, mampu melejitkan prestasi suami dan anak-anaknya. Ternyata, di balik kemajuan sebuah bangsa, terdapat peran mulia para ibu rumah tangga yang bekerja dalam kesunyian, miskin publisitas. Terimakasih Dinda, terimakasih Bunda, bukan Bi Iyem.
Ditulis: Sabtu, 24 Juli 2010
No comments:
Post a Comment