Monday, December 20, 2010

FF

Singkatan FF, bisa dipanjangkan menjadi beberapa istilah yang cukup populer, seperti, fitness first, first to fly, fast food, forget and forgive, fast and furious, friend or foe, maupun fire and forget. Fitness first adalah merk waralaba terkenal untuk pusat kebugaran. Dengan harga tiket yang murah, beberapa maskapai penerbangan, meskipun telah berjasa karena memungkinkan rakyat kecil untuk merasakan, bagaimana serunya bepergian naik pesawat terbang, first to fly, dianggap menyebabkan kekumuhan di ruang tunggu bandar udara, menjadi mirip ruang tunggu terminal bus. Fast food, yang sering disebut juga sebagai junk food, dituduh sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas mewabahnya kelebihan berat badan, obesitas. Salah satu contoh gerai fast food yang terkenal adalah KFC, yang hak waralabanya dimiliki oleh PT fast food indonesia, perusahaan yang dimiliki oleh keluarga gelael. Ingat ricardo gelael, yang sering menjadi navigator rally kala mas tomy suharto dengan gagah berani mengemudikan mobil mazdanya, yang diimpor utuh dari negeri sakura. Pada waktu pilleg, berkat kreatifitas para kader, kepanjangan KFC sempat dipelesetkan menjadi ... fans club, nama seorang ustadz yang caleg, yang kebetulan penampilan sang ustadz memang mirip dengan penampilan eyang sanders, pendiri KFC, sebelas dua belas. Pak anggito abimanyu, setelah mengundurkan diri dari BKF, menolak untuk menjelaskan berita seputar alasan pengunduran dirinya, karena, kata pak anggito, beliau sudah berada di tahapan forget and forgive. Fast and furious, adalah judul film, yang berkisah mengenai balap mobil liar. Sedangkan istilah friend or foe, serta fire and forget, akrab di kalangan militer. Friend or foe, kawan atau lawan, merupakan informasi yang disampaikan oleh alat pendeteksi yang dipasang di mesin perang, entah tank atau pesawat tempur, ketika mendeteksi obyek yang berada di sekitar mesin perang tersebut. Dalam suatu kesempatan di perang Irak, tank-tank amerika pernah saling menembaki di antara mereka, akibat alat pendeteksi salah menyajikan informasi, mengira kawan sebagai lawan. Istilah fire and forget, dipopulerkan oleh para ahli persenjataan di angkatan udara NATO, untuk menyebut salah satu teknik bertempur di udara, dog fight, dimana sang pilot setelah meluncurkan rudal pintar, tidak perlu lagi repot-repot mengendalikan arah rudal, karena sang rudal sudah dibekali dengan pengetahuan mengenai posisi musuh, sehingga bisa mencari sendiri sasarannya. Cukup tembakan saja, dan setelah itu lupakan, karena sang rudal mampu mencari sendiri sasarannya. Fire and forget.

Selain menjadi istilah yang populer di kalangan militer, istilah fire and forget ini, juga dikenal di dunia da’wah. Sesudah menyampaikan nasehat, fire, entah melalui lisan maupun tulisan, para da’i seringkali tertipu dengan perasaan bahwa, dirinya sudah cukup banyak berbuat untuk ummat, sehingga, mereka melupakan dirinya sendiri untuk mengamalkan apa-apa yang mereka nasehatkan, forget. Alquran mengingatkan para da’i agar melaksanakan amalan sesuai dengan nasehat atau taujih yang telah disampaikan. Amat besarlah murka Alloh SWT terhadap para da’i yang, tidak mengamalkan apa-apa yang telah disampaikan. Ulama besar Imam Hasan Al Bashri, pernah diundang untuk menyampaikan pengajian, dengan pesan titipan dari panitia agar beliau membahas masalah pembebasan budak. Beliau baru berani berceramah memenuhi undangan panitia tersebut, setelah beliau membeli budak dan membebaskannya. Seringkali, para ulama begitu gencar menembak orang lain, namun lupa untuk menembak keluarganya sendiri, saking sibuknya. Inilah rahasianya, mengapa sebagian putra-putri para ulama pengasuh pondok pesantren, memiliki tingkat kebandelan di atas rata-rata. Penciptaan tokoh-tokoh di dalam tulisan, seperti misalnya tokoh pak adil dan pak sujahtra, bisa digunakan untuk berjaga-jaga, seandainya penyakit fire and forget ini muncul. Bahwa nasehat maupun kritikan yang disampaikan oleh sang pencipta tokoh, dilakukan dengan meminjam lisan para tokoh rekaan tersebut, sehingga, semoga, para pembaca hanya melihat materi tulisannya, dan tidak mencari relevansi antara perilaku penulis dengan materi tulisannya. Undzur maa qoula walaa tandzur man qoula

Berlainan dengan tarbiyah islamiyah yang memantau perkembangan obyek da’wah, da’wah yang tidak berkelanjutan, sporadis, rentan terjangkit penyakit fire and forget, karena, setelah menyampaikan nasehat kepada obyek da’wah, fire, sebagian da’i akan melupakan perkembangan obyek da’wah, forget. Pada da’wah yang berkelanjutan, perkembangan obyek da’wah, akan diikuti dengan penjenjangan obyek da’wah. Penjenjangan obyek da’wah, sesungguhnya merupakan penghargaan atau ucapan terimakasih atas prestasi da’wah yang telah diraih oleh obyek da’wah, atau apa yang dikenal dengan istilah, muwashoffat. Karena penghargaan atau pujian adalah tonikum bagi jiwa, maka, salah satu karakter manusia adalah, cenderung untuk mempertahankan penghargaan atau pujian. Dengan demikian, penghargaan ataupun pujian, akan menciptakan standar prestasi kerja. Seorang anak kecil yang dipuji oleh orangtuanya, sebagai anak yang rajin dan shalih, setelah sukses menunaikan tugas dari orangtuanya berupa membeli minyak goreng di warung sebelah, akan selalu berusaha menjadi anak yang patuh kalau disuruh oleh orang tuanya, demi mempertahankan pujian. Sehingga, pada acara-acara tertentu, misalnya kuliah umum, aksi long march unjuk rasa, ataupun pada acara mabit di masjid sektor 9, tingkat kehadiran kader da’wah dengan jenjang yang lebih tinggi, misalnya pada level anggota ahli atau anggota dewasa, seharusnya juga lebih tinggi dibandingkan dengan kader da’wah pada level madya atau muayyid. Kecuali, sebagian kader da’wah dengan level yang lebih tinggi, keliru menafsirkan acara pembai’atan mereka, seolah-olah mereka seperti telah mengikuti perang badar, berbuatlah semaumu, Alloh telah mengampunimu. Atau, setelah mereka mengucapkan sumpah bai’at, fire, mereka kemudian melupakannya, forget. Idealnya, sebagaimana gambaran sebuah keluarga yang baik, perilaku sang kakak harus bisa dijadikan panutan oleh adik-adiknya. Sang adikpun juga demikian, jangan sampai ketika musim mukhoyyam tiba, sang adik sangat berharap jenjangnya segera dinaikan menjadi dewasa atau ahli, yang lebih ringan mukhoyyamnya, sambil sibuk bertanya-tanya, mengapa si fulan yang baru kemarin disalamin kok sekarang sudah beranjak dewasa atau ahli, salah apa ya saya, kok nggak naik-naik. Namun ketika musim lomba hafalan al qur an tiba, sang adik merasa lebih nyaman beristiqomah di jenjang madya, karena cukup menghafal juz 29 dan 30 saja.

Salah seorang ustadz yang kebetulan adalah aleg, menyayangkan minimnya respon sebagian kader da’wah, terhadap beberapa peluang bagus yang ditawarkan sang ustadz. Peluang atau kesempatan yang bagus ini, bila dimanfaatkan dengan baik, berpotensi besar untuk menaikkan posisi tawar partai da’wah, meningkatkan perolehan suara, maupun memperbaiki perekonomian para kader. Menurut ustadz tersebut, para kader ini hanya sekedar ber iya-iya, namun setelah itu, tidak ada kelanjutannya. Kata orang jawa, nggah nggih nggah nggih, ning ora kepanggih. Hanya sekedar ho oh-ho oh saja, fire, setelah itu tidak ada tindak lanjut, forget, atau, meminjam istilah pak ustadz dalam bahasa jawa, kamitenggengen, yang kurang lebih artinya, no action talk only. Ustadz Musyafa pernah mengisahkan, bagaimana bani israil di bawah pimpinan nabi Musa, pernah menyia-nyiakan peluang yang baik, untuk menguasai negeri palestina dengan hanya memasukinya, tanpa harus berperang. Menurut ustadz Musyafa, peluang baik yang disia-siakan, akan datang lagi, tetapi dengan konsekuensi yang lebih berat. Benar, sekian waktu kemudian, peluang yang baik itu datang lagi. Bani israil diberi kesempatan lagi untuk menguasai negeri palestina, tetapi kali ini harus dengan peperangan, di bawah pimpinan yaswa bin nun. Konsekuensi yang semakin berat.

No comments:

Post a Comment